Home / Fenomena / Jawaban Atas Pertanyaan Penggemar Dongeng Flat Earth Oleh Prof. Thomas Djamaludin LAPAN

Jawaban Atas Pertanyaan Penggemar Dongeng Flat Earth Oleh Prof. Thomas Djamaludin LAPAN

Jawaban Atas Pertanyaan Penggemar Dongeng Flat Earth Oleh Prof. Thomas Djamaludin Ketua LAPAN RI

Oleh : T. Djamaluddin

Profesor Riset Astronomi-Astrofisika, LAPAN

FB LAPAN menerima banyak pertanyaan dari para penggemar FE (Flat Earth — bumi datar) dengan pola pertanyaan yang hampir sama. Pertanyaan-pertanyaan tersebut dimaksudkan untuk menjadi pembenaran bagi dongeng FE. Tulisan ini dimaksudkan sebagai kompilasi pertanyaan mereka dan jawaban saya. Tulisan ini serial dan akumulasi dari tanya jawab berkait dengan dongeng FE. Jawaban saya upayakan sesederhana mungkin dengan bahasa awam.

bumi itu bulat, tapi penggemar Flat Earth Tidak Mempercayainya
bumi itu bulat, tapi penggemar Flat Earth Tidak Mempercayainya

Q: Bagaimana foto asli satelit sebelum diluncurkan?

A: Saya tunjukkan foto satelit LAPAN A2 yang dibuat oleh LAPAN dan dilepas oleh Presiden September 2015 lalu. Spesifikasi satelit LAPAN-A2 juga diberikan di bawah ini.

Q: Apakah satelit yang diluncurkan tidak menabrak kubah langit?

A: Satelit diluncurkan sampai ketinggian lebih dari 400 km, misalnya satelit LAPAN A2 diorbitkan pada ketinggian 650 km. Tidak ada kubah langit. Ini video peluncuran satelit LAPAN A2 dengan roket India.

Q: Apakah dapat dibuktikan satelit itu ada? Apakah LAPAN mengendalikan sendiri satelitnya?

A: Pendalian satelit, komunikasi data, dan perolehan datanya menjadi bukti keberadaan satelit. Penggunaan satelit untuk siaran TV dan komunikasi data perbankan untuk ATM menjadi bukti pemanfaatan satelit yang langsung dirasakan masyarakat. Kalau diperlukan pembuktian langsung, silakan berkunjung ke Pusat Teknologi Satelit, LAPAN di Bogor. Di situlah dikendalikan satelit milik LAPAN.

Pusat Kendali Satelit LAPAN

Q. Apakah satelit di orbit bisa dilihat, untuk membuktikan keberadaannya?

A: Satelit yang kecil tidak ada terlihat karena terlalu jauh (ketinggian umumnya lebih dari 400 km). Hanya ISS (International Space Station) yang ukurannya sangat besar — hampir sebesar lapangan bola) yang dapat dilihat dengan teleskop.

ISS dilihat oleh Teleskop

Q. Kalau bumi benar bulat, mengapa horizon permukaan air laut dan jembatan terpanjang tidak terlihat melengkung?

A:Jari-jari bumi sekitar 6.300 km.  Kalau kita ambil bentangan horizon laut atau jembatan terpanjang sekitar 2 km, maka bentangan tersebut terlalu kecil dibandingkan dengan jar-jari bumi. Coba kita buat skala kecil. Kalau jari-jari bumi dibuat 63 meter (kira-kira setengah panjang lapangan bola), maka bentangan jembatan atau horizon laut hanya digambarkan 0,02 meter (2 cm). Garis 2 cm pada lingkaran sebesar setengah lapangan bola seperti itu tentu tidak akan terlihat kelengkungannya.

Q. Bagaimana hitungan gerhana matahari tanpa menggunakan siklus Saros?

A: Hitungan gerhana matahari rumit rumusannya untuk difahami awam (bagi yang berminat, rumusan yang disederhanakan bisa dilihat di buku Astronomical Algorithm oleh Jean Meeus), tetapi pada prinsipnya memperhitungkan orbit bumi mengitari matahari, orbit bulan mengitari bumi, dan rotasi bumi. Siklus Saros yang sekitar 18 tahun hanya digunakan untuk menandai karakteristik gerhana yang mirip. Siklus Saros tidak bisa menghitung waktu dan jalur gerhana secara akurat. Dengan perhitungan gerhana yang akurat, NASA telah membuat aplikasi yang bisa digunakan oleh awam untuk menghitung waktu dan jalur gerhana. Misalnya, gerhana 9 Maret 2016 yang melintasi Indonesia.

GMT 2016

GMT 9 Maret 2016 adalah termasuk Siklus Saros 130. Kita tunjukkan karakteristik jalurnya mirip dengan GMT 26 Februari 1998 yang sama-sama seri Saros 130.

GMT tahun 1998

Q:  Bukankah foto semua planet dan satelit hanya CGI (Computer Generated Imagery – gambar yang dibuat computer)?

A: Teknologi pembuatan CGI baru ada  pada dasawarsa belakangan, sedangkan foto-foto planet sudah diperoleh pada generasi awal penguasaan tentang teleskop dan fotografi. Satelit sudah dikenal sejak 1957. Foto-foto jarak dekat planet-planet diperoleh setelah adanya wahana antariksa antar-planet sekitar tahun 1970-an dan 1980-an. Gambar-gambar simulasi dengan komputer (CGI) hanya digunakan sebagai bagian edukasi publik agar lebih mudah difahami awam, tidak sekadar dengan rumus-rumus, grafik, dan tabel yang hanya difahami para ilmuwan. Sebelum ada CGI, ilmuwan memanfaatkan lukisan ilustrasi dari seniman agar dapat difahami awam.

Q: Bukankah matahari bisa diambil gambar videonya karena memang matahari sangat dekat?

A: Matahari berjarak 150 juta km dari bumi. Diameternya 1,4 juta km. Suhu permukaannya 6000 derajat. Jadi tidak mungkin, matahari dianggap dekat. Foto dan dideo matahari diperoleh dari teleskop di bumi dan dari satelit yang ditempatkan di antariksa.

Q: Bukankah batas langit berupa dome (kubah) sehingga pelangi berbentuk kurva dan tidak pernah ada yg dapat menembusnya?

A: Langit adalah ruang terbuka di luar bumi yang tidak ada batasnya. Kita mengamatiny seperti kubah karena batas pandang mata manusia ke arah langit, seolah-olah benda-benda langit itu menempel pada bola langit. Pada penyajian posisi benda langit secara astronomi memang digunakan alat bantu bola langit, tetapi itu sesungguhnya hanya penggambaran arah yang dinyatakan dalam derajat, relatif terhadap titik pengamatan. Langit tidak ada batas jaraknya.

Pelangi yang melengkung bukan karena kubah langit. Pelangi tampak melengkung setengah lingkaran juga karena batas pandang mata pengamatnya. Pelangi disebabkan oleh pembiasan dan penguraian warna cahaya matahari dari arah belakang pengamat oleh butir-butir air hujan atau kristal es jauh di hadapan pengamat. Ada sudut tertentu pada butir-butir air hujan atau kristal es yang menyebabkan pembiasan dan penguarian cahaya matahari, sehingga warna yang dihasilkan seolah melingkari titik hubung matahari dan mata pengamat. Titik pusat lingkaran pelangi berada di kaki langit kalau mataharinya berada di kaki langit. Bila mataharinya berada lebih tinggi dari kaki langit, maka titik pusat lingkatan pelangi lebih rendah dari kaki langit. Itu sebabnya tidak terlihat pelangi saat matahari tinggi di langit.

Karena langit tidak ada batasnya, maka roket dapat menembusnya untuk menempatkan satelit di orbitnya.

Q: Bukankah roket dan pesawat ulang alik terbang dalam bentuk kurva juga, tidak tegak lurus ke atas karena akan meledak ketika menabrak dome (kubah langit)?

A: Roket dan pesawat ulang alik akan meluncur sampai ketinggian orbit yang dituju, umumnya di atas 400 km. Roket atau pesawat ulang alik tidak akan meledak (kecuali ada kesalahan teknis) sampai mencapai antariksa karena tidak ada batas atau kubah langit (dome). Pengamat melihatnya terbang melengkung karena efek gravitasi bumi, sehingga lintasannya berbentuk parabola. Seperti halnya kita melempar batu, batu itu akan jatuh dengan lintasan parabola. Kalau dilempar dengan kekuatan yang besar (dengan roket atau pesawat ulang alik), lintasan parabolanya mencapai ketinggian sampai sekitar 400 – 600 km.

Q: Bukankah kalau kita naik pesawat atau balon udara, bumi tampak tidak bergerak?

A: Pesawat atau balon udara bergerak bersama rotasi bumi, karena pesawat dan balon udara tersebut (dan seluruh benda di bumi) terikat dengan gavitasi bumi. Sama halnya anak kecil yang melompat-lompat di kursi kereta akan menganggap kursinya tetap, karena dia bergerak bersama kereta.

Q: Kalau bumi berputar, mengapa jadwal penerbangan bisa pas sesuai jadwal? Apakah laju pesawat sama dgn rotasi bumi dan apakah tempat tujuan pesawat juga berputar? Gak sampe-sampe dong?

A: Pesawat terbang bersama bumi yang berotasi, karena pesawat terikat dengan gravitasi bumi. Jadi, dalam perhitungan jadwal penerbangan dihitung kecepatannya terhadap titik tetap di bumi (seperti halnya menghitung kecepatan kereta api), kemudian dikoreksi dengan beberapa faktor lainnya, antara lain rotasi bumi.

Q: Bukankah gedung dan kapal dilihat dari jauh tidak menghilang ditelan bumi, mereka masih tetap terlihat tetapi kecil?  Kalau bumi bulat, maka semakin jauh benda, bukan hanya dia akan terlihat menghilang di bagian kakinya tetapi juga akan terlihat miring ke belakang.

A: Kelengkungan bumi tidak akan terlihat pada jarak pendek. Untuk jarak yang jauh, seperti eksperiment di sungai Bedford sejauh 9,7 km, harus memperhitungkan juga refraksi (pembiasan) atmosfer yang menyebabkan benda yang sudah berada di bawah ufuk tampak lebih tinggi. Refraksi atmosfer juga dipergunakan dalam menghitung terbit dan terbenamnya matahari dan bulan.

Q: Bukankah kalau dilihat dari pesawat, horizon bumi tetap setinggi mata, artinya bumi rata? Kalau bumi bulat, semakin tinggi posisi kita semakin bawah horizon dari bumi.

A: Ketampakan horizon justru menunjukkan bumi kita bulat. Kalau kita naik pesawat, pandangan kita dibatasi oleh horizon (kaki langit). Horizon tetap setinggi mata, karena horizon adalah titik singgug garis pandang dengan bola bumi. Kalau bumi kita datar, maka pandangan kita dibatasan oleh sensitivitas mata, artinya kalau kita mempunyai teleskop canggih, dari atas pesawat kita bisa melihat sampai tepi bumi yang datar tersebut. Tetapi di kejauhan, bila kita naik pesawat terbang, kita tidak bisa melihat hamparan sampai tepi dunia ini.

Horizon dilihat dari pesawat
Horizon akan Tampak karena bumi bulat

Q: Bukankah gravitasi itu tidak ada?

A: Semua benda mengalami gaya gravitasi. Semua benda di bumi tetap melekat di permukaan bumi karena gaya gravitasi bumi. Batu dilempar kembali jatuh, sama halnya dengan satelit dan bulan yang mengorbit bumi, semuanya karena gaya gravitasi bumi. Bumi dan planet-planet mengitari matahari karena gaya gravitasi matahari.

Q: Bukahkah tidak ada penerbangan langsung Afrika Selatan ke Australia walaupun di pada bumi bulat mereka hanya berjarak 9 jam? Menurut peta bumi rata, Australia dan Afrika Selatan adalah negara terujung-ujung bumi.

A: Penerbangan lintas kutub selatan memang jarang karena pertimbangan teknis, kemungkinan gangguan pada mesin akibat suhu yang sangat dingin. Namun, bila cuaca memungkinkan, beberapa maskapai melakukan penerbangan lintas kutub Selatan. Misalnya, LATAM Airlains terbang non-stop dari Sydney (Australia) ke Santiago (Amerika Selatan). Air New Zealand juga terbang non-stop dari Auckland (Selandia Baru) ke Buenos Aires (Amerika Selatan). Qantas terbang non-stop dari Sydney (Australia) ke Johannesburg (Afrika Selatan).

Jalur penerbangan antartika

Q: Bukankah sinar matahari dan bulan akan terlihat lebih terang di awan sekitar mereka di bandingkan awan yang lebih jauh. Artinya matahari berada dekat dengan bumi sehingga sinarnya akan terlihat lebih terang terhadap benda di sekitarnya dibandingkan benda yang jauh?

A: Jarak matahari ke bumi sekitar 150 juta km dan jarak bulan ke bumi sekitar 384.000 km. Artinya, kuat cahaya yang sampai ke bumi (termasuk awan) secara umum hampir sama. Mengapa cahaya yang mengenai awan yang dekat lebih terang dari pada awan yang jauh? Penyebabnya bukan lagi pada matahari/bulan, tetapi pada awan sebagai  sumber cahaya pantulan. Karena awannya dekat, maka cahaya pantulannya terlihat lebih terang daripada awan yang jauh.

Q: Bukankah gambar sinar matahari menembus awan akan terlihat bersudut dan tidak berupa garis sejajar, yang artinya matahari dekat?

A: Itu bukan bukti matahari yang dekat. Bentuk menyudut yang terpusat pada matahari menunjukkan bahwa berkas cahaya matahari itu lurus dan sejejar, karena mataharinya sangat jauh (150 juta km). berkas cahaya yang luruh yang menembus celah-celah awan tampak menyudut karena pandangan perspektif, sama halnya ketika kita melihat rel kereta api tampak makin menyempit di kejauhan

Q: Bukankah gerhana adalah hoax , sebab jika matahari di belakang bumi dikatakan gerhana bulan, lalu dari mana asal sinar bulan? Jika bulan menutupi matahari ketika gerhana matahari lalu dari mana asal cahaya bulan? Bukankah sinar bulan berasal dari matahari?

A: Gerhana bulan dan matahari adalah akibat konfirgurasi bumi, bulan, dan matahari. Akibat bulan mengelilingi bumi, cahaya yang dipantulkan bulan membentuk ketampakan bulan sabit, bulan setengah, dan bulan purnama. Ketika bulan purnama, posisi bulan segaris dengan matahari dan bumi, maka cahaya matahari yang menuju bulan terhalang oleh bumi. Bayangan bumi pada purnama itulah yang disebut gerhana bulan. Pada saat bulan baru (newmoon), cahaya bulan tidak tampak, karena bagian yang tersinari menghadap matahari. Ada saatnya, bulan baru itu segaris dengan matahari dan bumi. Akibatnya, cahaya matahari yang menuju bumi terhalangi. Matahari akan terlihat gelap sebagian atau seluruhnya. Itulah yang disebut gerhana matahari.

Q: Bukankah astronot tidak ada, dulu mereka memakai tangki air, sekarang memakai CGI (Gambar buatan computer)?

A:  Astronot benar adanya, baik yang pernah mendarat di bulan maupun yang saat ini bekerja di laboratorium antariksa ISS. Astronot di dalam tangki air adalah saat latihan mensimulasikan gerak di antariksa. CGI astronot hanya ada dalam pembuatan film.

Q: Ketika astronot NASA mendarat di bulan, mengapa gambar bumi hanya sebesar bulan? Bukankan bumi empat kali  lipat lebih besar? Harusnya ketika mereka di bulan, maka gambar bumi akan tampak lebih besar?

A: Ukuran “besar” atau “kecil” adalah ukuran relatif. Gambar bumi yang tidak dilihat dengan ukuran sama ketika melihat bulan bisa menimpulkan kesan seolah ukurannya sama. Mestinya ukuran ketampakan bumi dan bulan sama-sama dibandingkan dengan objek yang sama besarnya pada jarak yang sama. Misalnya, bumi dan bulan sama-sama dipotret dengan pembanding ballpen yang dipegang sejauh bentangan lengan, kita akan melihat gambar bumi empat kali lebih besar dibandingkan bulan. Di astronomi dikenal ukuran derajat untuk menggambarkan besar objek langit. Bulan itu terlihat dari bumi besarnya sekitar 0,5 derajat, mestinya bumi terlihat dari bulan besarnya sekitar 2 derajat.

Q: Sejak zaman dahulu sampai sekarang, gambar bumi hanya itu-itu saja tidak berubah. Ketika mereka merilis gambar bumi sedang berputar, mengapa awannya tetap tidak bergerak?

A: Awan bergerak karena dinamika atmosfer yang skala waktunya minimal 10-menitan agar bisa melihat pergerakannya. Misalnya, citra satelit Himawari yang bisa menampilkan pergerakan awan setiap 10 menit.  Gambar atau video bumi berputar hanyalah simulasi dari waktu 24 jam dimampatkan menjadi beberapa menit saja, sehingga pergerakan awan tidak dapat terlihat.

TENTANG GERHANA

Foto Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 di Parigi, Sulawesi Tengah

Sains itu adalah akumulasi pemahaman manusia akan alam sepanjang sejarah manusia. Pemahaman itu diformulasikan secara bertahap dan terus disempurnakan. Pola pikir ala dongeng FE sama sekali tidak mengandung unsur sains, hanya “cocokologi” alias comot sana-sini lalu dicocokkan dengan kerangka berfikir FE. Itu berbeda dengan kerangka berfikir sains, yang mengumpulkan data dulu baru kemudian hasil pengolahan data dan analisisnya menghasilkan kesimpulan. Pengujian yang berulang-ulang atas berbagai hasil penelitian baru menghasilkan teori.

Akumulasi pemahaman akan fenomena alam telah melahirkan sains yang bukan didominasi oleh lembaga tertentu seperti NASA. Sains itu besifat universal, termasuk perhitungan gerhana yang basisnya adalah astronomi. Aplikasi perhitungan gerhana memang disediakan oleh situs NASA, tetapi itu bukan satu-satunya. Masih ada beberapa aplikasi lainnya yang bisa digunakan.

Pemahaman gerhana dan perhitungannya didasarkan pada data ilmiah (bukan asumsi) yang menyatakan bahwa gerhana terjadi pada sistem bumi-bulan-matahari. Ketiga benda langit tersebut yang karena gravitasi dirinya secara natural berbentuk bola, tidak ada pengecualian bagi bumi. Bumi berputar pada porosnya. Bulan yang berjarak sekitar 384,000 km dari bumi mengitari bumi sebagai planet induknya. Bumi bersama bulan mengitari Matahari sebagai bintang induk yang berjarak sekitar 150 juta km. Skematik gerhana sudah banyak diajarkan sejak SD, bahwa gerhana matahari terjadi ketika matahari terhalang oleh bulan dan gerhana bulan terjadi ketika purnama tertutup bayangan bumi.

Skematik gerhana matahari dan gerhana bulan

Gerhana menjadi salah satu masalah yang terlalu disederhanakan oleh peggemar FE, hanya dengan mencuplik bagian kecil dari informasi gerhana, yaitu siklus Saros. Seolah-olah gerhana hanya dihitung dengan siklus Saros, tanpa memperhitungkan besar matahari dan bulan serta jarak matahari dan bulan.

Kalau begitu, bagaimana sebenarnya cara menghitung gerhana? Sistem bumi-bulan-matahari bukanlah sistem sederhana, karenanya perhitungan gerhana sesungguhnya rumit untuk difahami awam. Tetapi, disini saya cuplikkan contoh salah satu aspek perhitungan gerhana matahari (aspek titik jatuhnya bayangan bulan di bumi) dari buku “Prediction and Analysis of Solar Eclipse Circumstances” (by W. Williams, Jr., 1971), sama sekali tidak menggunakan siklus Saros. Pada perhitungan ini ditunjukkan parameter jarak matahari-bulan, jarak bulan-bumi, serta jari-jari matahari, bulan, dan bumi.

Karena bumi berbentuk bola, maka perhitungan menggunakan pendekatan bidang dasar (Fundamental Plane) yang melewati titik pusat bumi dan tegak lurus terhadap arah cahaya matahari.

Kemudian dihitung koordinat sumbu bayangan bulan:

Setelah itu dihitung radius umbra dan penumbra untuk mengetahui daerah yang terkena gerhana:

Data yang dihitung dengan aplikasi gerhana NASA sama sekali tidak menunjukkan periodisitas gerhana mengikuti siklus Saros. Berikut data gerhana selama 2011-2020, yang di dalamnya terdapat data gerhana 9 Maret 2016 yang terbukti melintasi Indonesia dengan prakiraan waktu dan jalur yang tepat.

Lalu apa sih siklus Saros yang dicantumkan pada tabel tersebut? Siklus Saros yang dinyatakan sebagai nomor serial Saros, adalah penanda gerhana yang mempunyai sifat gerhana yang mirip. Siklus Saros secara rata-rata berulang sekitar 18 tahun 11 hari. Inilah contoh kemiripan jalur gerhana pada serial Saros 130: gerhana matahari total (GMT) 26 Februari 1998, 9 Maret 2016, dan  20 Maret 2034 (perhatikan waktunya berselang 18 tahun 11 hari). Siklus Saros sama sekali tidak digunakan untuk menghitung waktu gerhana.

Untuk awam, tidak perlu repot melakukan perhitungan seperti di atas. Cukup gunakan aplikasi yang sudah memprogram semua perhitungan rumit tersebut. Misalnya, aplikasi gerhana di situs NASA.

Data pada situs NASA tersebut telah membantu para pengamat di seluruh Indonesia untuk menyaksikan gerhana pada 9 Maret lalu. Saya sendiri membuktikan secara langsung gerhana matahari total (GMT) 9 Maret 2016 lalu dari Parigi, Sulawesi Tengah.

About kelas-fisika

Check Also

Bagaimana Proses Terjadinya Petir ?

kelas-fisika.com – Bagaimana Proses Terjadinya Petir ? Pernahkah Anda melihat cahaya terang berwarna putih, biru, …

3 comments

  1. Sedikit masukan. Hampir semuanya berdasarkan asumsi. Tanpa fakta dan sumber yg jelas.

  2. terima kasih mas zifan sudah mampir, tapi mohon kiranya mas zifan menjelaskan atau kalau perlu ditulis satu satu, di bagian mana saja yang berdasarkan asumsi dari tulisan prof thomas mengenai Jawaban atas pertanyaan Penggemar Dongeng Flath Earth.

    sehingga mas zifan mudah menyimpulkan “hampir semuanya berdasarkan asumsi”?…

    dan saya kira Prof Thomas Djamaludin di tulisan di atas sudah menyampaikan secara ilmiah berdasarkan “fakta dan sumber” yang jelas. itu sih menurut saya..

  3. Jawaban Prof Thomas, hanya based on asumsi di atas asumsi.. sy orang awam,,, tapi saya lihat jawaban prof Thomas hanya berdasarkan asumsinya GE seperti yang sudah diajarkan di sekolah2 (termasuk saya korbannya) jarang dengan perhitungan matematis (misalnya dari mana jarak matahari 150 juta Km???)
    Saya hanya minta tolong tanyakan pada hati nurani prof Thomas, dan teman2 lain… apa benar2 dunia berbentuk bulat seperti sudah diajarkan kepada kita. Saya pribadi sudah pelajari apa2 yang dipaparkan FE.. SANGAT lebih masuk akal dibandingkan paparan GE..

    Saya hanya ingin sampaikan: Tolong pakai akal, hati, nurani.. Ini bukan cuma untuk kita, tapi untuk kebenaran, untuk anak cucu kita nanti, jangan sampai kebenaran tertutup terus dan terus2an dibohongi oleh sebahagian orang saja.

    Salam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Powered by themekiller.com